16 Jul 2017

Asus ZenBook UX410UQ Laptop Pilihan Creator

Kira-kira sejak dua tahun terakhir video seperti vlogging ngetren di YouTube. Membagikan konten menarik lewat video dan diunggah di situs YouTube tentu seru dan dapat dengan mudah dinikmati banyak orang. Sampai tulisan ini gue buat, terus muncul channel baru yang membagikan karya mereka. Iya, semua konten video yang ada di YouTube benar-benar bebas, tergantung temen-temen menilai sebuah konten itu positif atau sebaliknya.
Creator
Anyway di tengah-tengah ngetrennya YouTube sekarang ini, pernah nggak kepikiran ikutan bikin video? Karena sering menonton video YouTube, sebagian orang mungkin terinspirasi untuk ikut membuat karya. Karya itu luas, bukan hanya bentuk video. Banyak. Supaya topik yang gue bahas bersifat umum, creator yang gue ulas bukan hanya youtuber. Tetapi semua creator yang pasti mempunyai suatu lingkup kebutuhan yang sama.

Creator itu kreatif
Semua creator pasti dituntut kreatif. Bayangin seorang penulis yang harus pandai menyusun tulisan yang menarik. Youtuber yang harus telaten membuat konsep hingga mengemas ide kedalam bentuk video. Animator menciptakan karakter animasi yang lucu. Web developer mengembangkan website yang menarik. Semuanya butuh kreatifitas. Lah wong mahasiswa aja juga harus kreatif bikin alesan kalo ketahuan titip absen. Eh.

Device yang mendukung
Semua ide dan konsep yang telah dipikirkan akan lebih mudah diwujudkan dengan perlengkapan yang mendukung. Semua creator terutama yang bertumpu pada media digital membutuhkan laptop yang optimal. Seorang youtuber pasti membutuhkan laptop untuk mengolah dan editing video. So yeah, gue bukan seorang editor video maupun videografer, tapi gue ngerti kalo mengedit video membutuhkan laptop yang layak. Gue pernah iseng ngedit video, ada saat dimana kesabaran gue diuji. Yas, rendering. Bayangin waktu yang digunakan untuk menunggu proses rendering yang lama seharusnya bisa digunakan untuk proses upload maupun melakukan aktivitas yang lebih produktif lainnya. Kalo ini keluhan temen-temen, mungkin ada baiknya mencarikan laptop baru untuk melakukan pekerjaan tersebut. Asus ZenBook UX410UQ bisa dijadikan referensi. Asus tanggap dengan kebutuhan para creator. Mereka seolah menyediakan laptop yang dapat menunjang kebutuhan creator. Desain dan performa menjadi poin yang paling penting. Bobotnya cuman 1.4 kilogram dengan ketebalan 18.95 milimeter. Ringan plus tipis, bisa ditenteng kemana-mana pake satu tangan.

Asus ZenBook UX410UQ Laptop Pilihan Creator


ZenBook UX410UQ menggunakan Windows 10 dan prosesor Intel core i7 generasi ke tujuh alias Kabylake. Kelebihan prosesor Intel Kabylake adalah peningkatan performa 12% dan kecepatan di website hingga 19% dari generasi sebelumnya (Skylake). Untuk membuat konten dengan kualitas visual hingga 4K juga dapat dilakukan karena prosesor memiliki tenaga yang besar.

Karena musuh yang paling menyebalkan selama editing adalah momen rendering, maka kartu grafis dan RAM harus diperhatikan. ZenBook UX410UQ menggunakan Nvidia GeForce 940MX (2GB) dengan dukungan RAM 8GB DDR4 2133 MHz. Dengan kombinasi sistem operasi dan perangkat keras seperti ini maka proses editing akan terasa lebih halus dan rendering semakin cepat.
Prosesor Intel core i7, VGA Nvidia GeForce 940MX dan Windows 10
Kapasitas penyimpanan ZenBook UX410UQ ekstra besar dengan harddisk 1TB dikombinasikan dengan solid-state disc (SSD) sebesar 128GB. Sangat diperlukan untuk menyimpan project atau data-data penting lainnya. Sistem operasi juga akan semakin optimal bila ditempatkan pada SSD. Sangat memenuhi kebutuhan creator dalam sektor penyimpanan.

Meskipun bodinya tipis, ZenBook UX410UQ tidak mengorbankan bagian konektifitas. Untuk melakukan transfer data dapat memanfaatkan port yang telah disediakan, yaitu USB Type-C dengan transfer speed 10 kali lebih cepat dibanding koneksi USB 2.0. Disediakan juga port USB 3.0, HDMI dan slot SD Card. Lebih praktis dan mudah untuk menyambungkan berbagai perangkat. Terutama yang anti ribet haha.

Uniknya untuk ukuran laptop yang tidak lebih besar dari 13-inci dapat ditanamkan bentang layar seluas 14-inci dengan bezel tipis, 6mm doang. Display layar juga lebih jernih dengan resolusi kerapatan pixel 276 per inci. Very helpful untuk orang-orang multimedia mengerjakan objek yang detail. Papan keyboard juga didesain lembut dan nyaman ditekan. Touchpadnya pun telah mendukung sensor sidik jari untuk login yang cepat dan mudah. Menurut gue poin ini menarik dan menjadikan ZenBook ini semakin elegan.
Bentang lebih luas dengan bezel tipis

Papan keyboard elegan dan nyaman
Fitur Menarik ZenBook UX410UQ
1.Berjalan di sistem operasi Windows 10
Tentu saja hal ini akan membantu para creator karena sangat banyak aplikasi yang support berjalan pada Windows 10. Hampir seluruh aplikasi tersedia untuk versi Windows seperti produk Adobe atau aplikasi development populer lainnya. Terlebih fitur andalan Windows 10 yang diberikan Microsoft.
Support banyak aplikasi

2.Pengolahan warna lebih banyak dan lebih baik
Simpelnya ZenBook UX410UQ dapat menampilkan lebih banyak warna yang lebih akurat dan hidup dibanding tampilan standart.

3.Eye care
Terlalu lama menatap monitor juga harus peduli dengan kesehatan mata. Asus memberikan fitur menarik yang memungkinkan penggunanya mengatur beberapa mode sesuai kondisi. Tersedia empat pengaturan warna yaitu, 1) mode normal dengan pengaturan warna default, 2) mode eye care untuk mengurangi tingkat cahaya biru supaya pengelihatan tetap nyaman, 3) mode vivid untuk memberikan warna gambar yang tampil hidup dan nyata, 4) mode manual yang dapat dengan mudah diatur sesuai kebutuhan.
Beberapa mode fitur eye care


Terus apa alasan para creator memilih ZenBook UX410UQ?
Mobilitas
Semua orang nggak mau ribet. Dengan lebih praktis tentu lebih produktif. Karena bobot yang tipis dan ringan akan lebih mudah dibawa bepergian. Terutama saat travelling yang membutuhkan laptop untuk menyalin foto dari memori kamera. ZenBook UX410UQ muat disimpan pada ransel kecil.

Performa yang mumpuni
Selain untuk mengerjakan project, bermain game di laptop ini juga mantap. Jadi ketika jenuh tinggal main game atau bersantai dengan musik karena ZenBook telah menggunakan ASUS Sonic Master yang didesain untuk menghasilkan suara yang luar biasa.

Suara luar biasa dengan ASUS Sonic Master


Gue rangkum sedikit sisi kebutuhan berdasarkan beberapa macam creator, temen-temen bisa menambahkan di kolom komentar ya:

1.Youtuber atau Videografer
  • Performa yang smooth selama proses editing
  • Prosesor dan kartu grafis yang baik
  • RAM luas
  • Kapasitas penyimpanan besar
  • Praktis
2.Content writer atau Blogger
  • Praktis dibawa kemana pun pergi (karena inspirasi bisa datang kapan saja)
  • Papan keyboard nyaman ditekan
  • Daya tahan baterai lama
3.Animator
  • Prosesor kencang
  • Kartu grafis yang baik
  • RAM luas
  • Kapasitas penyimpanan besar
  • Praktis
4.Desainer grafis
  • Performa yang mendukung aktivitas desain
  • Prosesor dan kartu grafis yang baik
  • RAM luas
  • Kapasitas penyimpanan besar
  • Praktis dibawa kemana pun pergi.
5.Website Developer
  • Stabil
  • Multitasking
  • Papan keyboard nyaman ditekan
  • Daya tahan baterai lama
  • Simpel dan praktis

Karena lengkapnya spesifikasi dan fitur yang sesuai dengan kebutuhan para creator, gue setuju kalau Asus ZenBook UX410UQ adalah laptop seorang creator. Nah, semoga postingan ini informatif dan bisa membantu (calon) creator dan temen-temen mencari laptop yang benar-benar tepat dengan kebutuhan. Semangat berkarya!

Sumber gambar:
https://www.asus.com/id
http://www.designability.org.uk

6 Mei 2017

Lebih Dekat dengan Ranu Kumbolo

Tepat di penghujung bulan April kemarin gue berhasil dapetin pengalaman baru. Sebelumnya gue berpendapat kalo naik gunung itu biasa aja dan ujung-ujungnya pasti bikin capek. But.. kalimat tadi udah gue buktikan dan ternyata salah.. hehe.
Yap! Naik gunung ternyata lebih seru dari yang gue bayangkan. Ada sensasi yang beda kalo dibandingin dengan pantai, air terjun atau tempat lainnya.
Ini adalah pengalaman pertama gue pergi ke gunung. Gue berangkat ke Semeru berempat. Semuanya udah sering ke gunung kecuali gue. Mungkin ini alasan mereka kenapa ngajakin gue kesini. Pertama gue pesimis, tapi karena penasaran juga yaudah akhirnya gue ikut bareng mereka. Mumpung masih muda, iya ga?

Beberapa hari sebelumnya kami menyiapkan barang-barang yang bakal dibutuhin. FYI, kalo mau mendaki ke Gunung Semeru jangan lupa membawa surat keterangan sehat dari dokter dan fotokopi KTP. Karena kemarin surat-surat tersebut memang menjadi syarat untuk naik ke Semeru. Sehari sebelum berangkat gue udah minta surat sehat dari dokter dan membawa fotokopi KTP (satu lembar cukup), jadi nggak sampai pusing setiba di sana karena nggak punya kelengkapan surat-surat tersebut.

Barang bawaan yang gue masukin ke dalam tas nggak terlalu banyak. Cuman beberapa pakaian seperti celana ganti, kaos, jaket (gue bawa dua), sleeping bag, matras, gelas dan makanan instan. Temen-temen gue bawaannya lebih banyak dibanding gue karena memang space tas carrier mereka muat lebih banyak. Kompor portable sama tenda diangkut semuanya. Jempol!

Gue berangkat dari Malang pake motor sekitar pukul 11.00 siang dan tiba pukul 13.00. Sesampai di lokasi ternyata rame banget. Mungkin karena gue kesana weekend atau memang Semeru tiap hari banyak dikunjungi pendaki dari berbagai daerah, gue kurang tahu. Kami membeli tiket dan diberi formulir untuk mendata barang-barang yang dibawa. Oiya, sebelum memulai pendakian wajib banget mengikuti briefing bersama pendaki lainnya. Jadi ada ruangan semacam pusat informasi di sana.

Setelah semuanya beres, baru pendakian di mulai. Waktu itu gue mulai naik pukul 14.12. Nggak, berasa panas kok, suhu di sana sejuk. Hingga.. setelah melalui beberapa tanjakan awal gue udah mulai ngos-ngosan hahaha. Kami duduk sebentar di kursi kayu bekas ditebang. Setelah napas udah nggak ngos-ngosan perjalanan kami lanjutkan hingga kami istirahat lagi di pos pertama. Dari sana kayaknya gue udah mulai terbiasa. Ngos-ngosan sih masih, tapi nggak sesering seperti langkah-langkah pertama tadi haha. Kami lanjut sampai pos dua, tiga dan istirahat di sana. Nah.. ini yang gue inget banget. Kami berada di pos tiga sekitar pukul setengah enam sore, matahari udah perlahan tenggelam. Setelah cabut dari pos tiga di depannya ada tanjakan lagi yang nyebelin haha. Ngga tau dah, padahal baru istirahat di pos tiga tapi setelah melewati tanjakan tadi napas langsung ngos-ngosan. Langit juga udah mulai gelap dan gue ngeluarin senter dari tas sebagai penerang jalan. Beberapa kali sempet tergelincir karena pijakan yang licin dan gelap. Jadi kudu pelan-pelan. Kami jalan terus... terus.. sampai di pos empat. Nah di pos empat ini udah terlihat lampu-lampu dari tenda orang yang nge-camp di Ranu Kumbolo. Yosh! Ini bener-bener bikin semangat berasa diboost. Temen-temen pada juga teriak,

“Ayo rek, PATAS!”

Beranjak dari pos empat tracknya udah mulai banyak turunan yang licin. Harus hati-hati agar nggak jatuh. Kami jalan terus dari pos empat dan Ranu Kumbolo udah di depan mata.

Sekitar pukul 18.30 gue udah tiba di Ranu Kumbolo dan langsung bersiap mendirikan tenda. Kurang lebih butuh waktu tiga puluh menit hingga akhirnya tenda siap dipake selonjoran. Lumayan capek. Kalo dihitung dari awal waktu pendakian kira-kira butuh lima jam untuk sampai di Ranu Kumbolo. Kami langsung bikin kopi dan mie instan untuk menghangatkan badan dan mengisi perut yang udah kosong.

Setelah makan gue tidur duluan dengan jaket rangkap dan sleeping bag yang gue bawa. Temen-temen masih nongkrong di tenda sambil ngobrol. Gue kebangun dini hari dan itu udaranya dingiin banget. Gue tidur udah pake jaket rangkap (kain dan parasit), sarung tangan, kaos kaki, penutup kepala dan sleeping bag pun masih kedinginan. Gue nggak bisa tidur lagi, sampai pagi.



Setelah semuanya bangun, kami mengambil air danau buat bikin mie instan (lagi) dan bubur instan yang gue bawa. Kabutnya tebel dan air danau juga dingin banget. Setelah sarapan dan nunggu kabut yang menutupi danau belum hilang, akhirnya kami naik ke tanjakan cinta yang ‘katanya’ kalo jalan sambil bayangin orang yang kita sayang tanpa nengok ke belakang bakalan hidup bahagia bersamanya. Kami berempat jomblo, jadi santai-santai aja mau nengok ke belakang atau kagak. Bener ga? Haha.


Dari atas tanjakan cinta terlihat hamparan luas yang ditumbuhi bunga warna ungu di bawahnya. Seingat gue sewaktu briefing bunga ini adalah tanaman parasit dan jumlahnya banyaaak banget. Mumpung udah di sana kami turun ke hamparan bunga ungu tadi (kalo ga salah nama tempatnya Oro-oro Ombo) untuk menikmati dan sekalian foto-foto.



Setelah capek, kami balik ke Ranu Kumbolo sambil berharap kabut udah hilang dan.. YAP! Ranu Kumbolo menunjukkan kecantikannya. Di situ orang-orang langsung foto-foto, bikin story Instagram (padahal kaga ada sinyal) dan menikmati momen dengan cara yang beragam. Ini adalah pertama kalinya gue menginjakkan kaki di Ranu Kumbolo. Lebih dekat dengan Ranu Kumbolo .. dari yang sebelumnya gue hanya tahu dari film atau sosial media saja.


Gue menikmati saat berada di sana. Bersyukur banget cuaca sangat cerah. Langit biru cerah, hijaunya hamparan pohon yang luas dan dipadu dengan warna khas danau Ranu Kumbolo. So awesome place!
Tapi tujuan kita semua kesini adalah untuk menikmati keindahannya, jadi jangan lupa juga untuk ikut menjaganya.

***

Setelah puas menikmati pemandangan yang indah, kami harus packing untuk pulang. Waktu untuk turun pasti lebih cepat dibanding saat naik. Kami membutuhkan sekitar tiga jam lebih hingga sampai di desa Ranu Pane dan langsung melanjutkan perjalanan kembali ke Malang. Terima kasih #RanuKumbolo.

11 Mar 2017

Masa Ga Bisa.. Lu kan Anak TI

Tahun 2017 udah masuk semester dua. Ambil jurusan TI kadang bikin senyum-senyum sendiri. Setiap temen punya masalah dengan hal-hal teknologi pasti bakal nyamperin dan minta bantuan. Kalo gue bilang gak bisa, mereka pasti bilang “masa ga bisa.. lu kan anak TI”. Ya gimana ya.. dunia teknologi luas banget, gak mungkin setiap orang bisa menguasai semuanya. Bisa satu bidang aja alhamdulillah.
Developer

FYI aja nih, masuk di TI porsi mata kuliahnya lebih banyak ke ngoding ketimbang bikin rangkaian kayak jurusan Teknik Elektro. Iya, ngoding itu nulis kode-kode program buat bikin software, aplikasi atau sejenisnya. Ya ada sih mata kuliah yang bermain dengan komponen elektro, tapi porsinya lebih sedikit dibanding koding tadi.

Koding

Lain kasus nih, biasanya juga kalo ada event atau mau bikin kaos dan jaket pasti yang disuruh desain anak TI. Padahal gue kira desain bukan bidangnya Informatika, jadi wajar kalo gak semua anak TI bisa desain. Contoh simpelnya gue. GUE GAK BISA BIKIN DESAIN!
Kalo urusan desain mending sama anak DKV, Seni atau Arsitek. Mereka pasti lebih terampil bikin desain dan sketsa.

Anyway, yang paling ngeselin lagi kalo pas nyambung Wi-Fi dan sinyalnya lemot, pasti pernah dimintain ngehack Wi-Fi biar kenceng. Gue yakin temen-temen yang ambil TI pasti pernah ngerasain, kan? Haha.. yaudah gue bilang aja kalo gak bisa. Bukan pura-pura, tapi emang beneran nggak ngerti.

Gue kadang bingung gimana ngasih tau ke orang-orang bahwa sebenernya TI itu bukan diajarin nyervis komputer, tapi lebih ke Software Development. Jadi kalo komputernya rusak mending dibawa ke tempat servis biar cepet beres masalahnya. Udah sih itu aja yang pengin gue bagi kali ini. Semoga punya sudut pandang baru tentang hal ini.

7 Jan 2017

Hello 2017

Halo 2017!! Ini adalah postingan pertama gue di tahun ini. Gue rasa nggak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Saat tahun baru orang-orang pada sibuk bikin resolusi untuk satu tahun kedepan dan.. sudah bisa ditebak media sosial pasti rame banget dengan twit atau postingan tentang resolusi.
Hello 2017

Flashback dikit.. gue rasa 2016 adalah tahun yang berkesan. Yess, di tahun itu gue lulus dari SMA dan beralih ke pendidikan selanjutnya. Dari situ gue bisa bedain antara sekolah dan kuliah. Enakan mana? Tergantung ditanya dari segi apa. Kalo tentang tugas jelas enakan sekolah. Tapi kuliah seru sih, jam masuknya nggak kayak sekolah. Ada jeda sesuai dengan jadwal kelas yang diambil. Lebih mandiri juga.

Gue jadi inget kalo di awal tahun 2016 lalu gue sempat ganti template dan untuk tahun ini gue belum kepikiran mau dirubah lagi atau enggak. Tapi kalo misalnya ada template lain yang bikin srek, kayaknya gue ganti. Mudah-mudahan segera dipertemukan dengan yang srek :D

Di tahun ini gue berharap bisa lebih konsisten lagi sih. Selama ini setiap jadwal yang udah gue rencanakan sering gue langgar sendiri. Udah nyoba bikin to-do-list tapi sering gue baca doang, nggak dikerjain. Nggak tau dah ini guenya yang salah atau jadwal bikinan gue yang ngejauhin gue. Gue juga berharap semua hal yang belum bisa gue lakukan bisa segera gue wujudkan. Mudah-mudahan.

Udah sih, gitu doang postingan pertama tahun ini. Kalo mau tukeran link dengan blog ini juga boleh, kalian bisa lihat di menu friend list yang udah gue sediakan. Happy New Year!!